Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

Laporan Penelitian Tindakan Sekolah: Upaya Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Yang Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (Pakem) Melalui Training Lesson Studi Di Smpn 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang

BAB I PENDAHULUAN
1.  Latar Belakang
Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan pendidikan dasar membawa konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model pembelajaran yang tradisional (model atau metode pembelajaran yang lebih berpusat guru) ke pengembangan  model atau metode yang lebih berpusat pada siswa.
Hal demikian  menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa biar mencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu kiprah guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan, antara lain : (a) peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) penerima didik ialah individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara mencar ilmu sesuatu yang berbeda pula, (c) proses mencar ilmu mengajar lebih ditekankan pada mencar ilmu daripada mengajar (Laster, 1985).
            Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran kiprah guru dalam pembelajaran, yaitu :
  1. Cara pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Dalam diri siswa terdapai aneka macam potensi yang siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam konteks pembelajaran guru diharapkan bisa menunjukkan dorongan kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
  2. Guru diharapkan bisa mengajarkan bagaimana siswa bisa berafiliasi dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi duduk kasus yang muncul di masyarakat. Antara lain dengan cara  menunjukkan tantangan yang berupa kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa sanggup mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang pada karenanya sanggup digunakan sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi aneka macam tantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi diharapkan bisa ikut ambil kepingan dalam mengembangkan potensi masyarakatnya.
Berdasarkan hasil pengamatan untuk mewujudkan kompetensi dan kiprah guru dalam penerapan pembelajaran aktif perlu adanya upaya yang dilakukan baik oleh dinas pendidikan, pengawas sekolah, maupun kepala sekolah. Salah satu upaya yang sanggup dilakukan kepala sekolah dalam rangka peningkatan kompetensi dan kiprah guru dalam pembelajaran ialah melalui  kegiatan pembinaan lesson studi.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba mengadakan penelitian tindakan sekolah untuk mengetahui efektivitas supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah terhadap peningkatan kualitas guru.

2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab masih rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran di SMPN 2 Cikeusik, antara lain:
a)    Lemahnya keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM)
b)    Keterbatasan sarana dan prasana pembelajaran
c)    Masih kurangnya tenaga kependidikan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan.
d)    Tidak berfungsinya kiprah pengawas sekolah
e)    Motivasi guru dan tenaga kependidikan lainnya masih rendah

3. Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah menyerupai yang diuraikan diatas, permasalahan dalam penelitian tindakan sekolah  ini dibatasi pada lemahnya keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM)

4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan dalam penelitian di rumuskan sebagai berikut:
Bagaimana efevtivitas upaya peningkatan keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (pakem) melalui  pembinaan lesson studi di SMPN 2 CIKEUSIK kabupaten pandeglang melalui  pembinaan Lesson Studi.

5. Tujuan Penelitian
Tujuan khusus dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini ialah untuk mmengetahui efevtivitas upaya peningkatan keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (pakem) melalui  pembinaan lesson studi di SMPN 2 CIKEUSIK kabupaten pandeglang melalui  pembinaan Lesson Studi.
Sedangan tujuan umum dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini ialah untuk peningkatan kualitas proses dan hasil mencar ilmu di SMPN 2 Cikeusik.

6. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini akan menunjukkan manfaat untuk perbaikan dan peningkatan proses hasil mencar ilmu terutama bagi perorangan atau institusi di bawah ini.
1. Bagi Siswa : Dengan memakai keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) siswa akan tergugah semangat belajarnya sehingga menambah akan keberanian untuk bertanya, menjawab, melaksanakan sesuatu tindakan yang berpola terstruktur, menemukan dan mengembangkan ide-ide baru, sehingga acara dan antusias mencar ilmu siswa lebih meningkat.
2.   Bagi Guru : Kemampuan menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) akan memberi kemudahan dalam melaksanakan kiprah mengajarnya, lantaran yang lebih aktif adalah  siswa, dan guru hanya mengarahkan saja.
3.   Bagi Sekolah : Hasil dari proses mencar ilmu mengajar yang efektif dan menyenangkan diharapkan sanggup meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

  BAB II LANDASAN TEORI

A. Belajar dan Pembelajaran
1.      Belajar Aktif
Winkel (1996) mendefinisikan mencar ilmu sebagai suatu acara mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap. Perubahan itu bersifat tetap dan berbekas. Belajar sanggup dipandang sebagai perjuangan untuk melaksanakan proses perubahan tingkah laris kearah menetap sebagai pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.
Belajar merupakan perjuangan seseorang untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Dalam proses mencar ilmu terjadi perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan siswa, baik dari segi kognitif, psikomotor maupun afektif.
Belajar aktif (sering dikenal sebagai “cara mencar ilmu siswa aktif”) merupakan suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara mencar ilmu yang aktif menuju mencar ilmu yang mandiri. Kemampuan mencar ilmu berdikari merupakan tujuan final dari mencar ilmu aktif. Untuk sanggup mencapai hal tersebut, kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa biar bermakna bagi siswa. Belajar yang bermakna terjadi jikalau siswa berperan secara aktif dalam proses mencar ilmu dan karenanya bisa memutuskan apa yang akan dipelajarinya.
Belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey learning by doing (1859-1952). Dewey sangat tidak oke pada rote learning “belajar dengan menghafal”. Dewey merupakan pendiri sekolah Dewey School  yang menerapkan prinsip-prinsip learning by doing, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses mencar ilmu secara spontan. Keingintahuan siswa akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses belajar. Menurut Dewey, guru berperan untuk menyediakan sarana bagi siswa untuk sanggup belajar. Dengan kiprah serta siswa dan guru dalam mencar ilmu aktif, akan tercipta suatu pengalaman mencar ilmu yang bermakna.
Belajar aktif mengandung aneka macam kiat yang berkhasiat untuk menumbuhkan kemampuan mencar ilmu aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan membuatkan pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman.
Melalui pendekatan mencar ilmu aktif, siswa diharapkan akan lebih bisa mengenal dan mengembangkan kapasitas mencar ilmu dan potensi yang dimilikinya. Di samping itu siswa secara penuh dan sadar sanggup memakai potensi sumber mencar ilmu yang terdapat di sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, kritis, tanggap, sehingga sanggup menuntaskan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya.
Selanjutnya, mencar ilmu aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan menurut prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru sanggup merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru diharapkan mempunyai kemampuan :
a.  Memanfaatkan sumber mencar ilmu di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran.
b.  Berkreasi dan mengembangkan gagasan baru
c.  Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh di masyarakat
d.  Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
e.  Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara sedikit demi sedikit dan utuh
f.   Memberi kesempatan kepada siswa untuk  sanggup berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya
g.  Menerapkan prinsip-prinsip mencar ilmu aktif.
Dengan demikian, mencar ilmu aktif diasumsikan sebagai pendekatan mencar ilmu yang efektif untuk sanggup membentuk siswa sebagai insan seutuhnya yang mempunyai kemampuan untuk mencar ilmu berdikari sepanjang hayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.

2.      Pembelajaran
Mengajar atau “teaching” ialah membantu siswa memperoleh  informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara mencar ilmu bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Pembelajaran  ialah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan ini intinya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran mempunyai hakekat perencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber mencar ilmu yang mungkin digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh lantaran itu pembelajaran menaruh perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “äpa yang dipelajari siswa”. Dengan demikian perlu diperhatikan  ialah bagaimana cara mengorganisasi pembelajaran, bagiaman cara memberikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber mencar ilmu yang ada biar sanggup berfungsi secara optimal. Pembelajaran perlu direncanakan dan dirancang secara optimal biar sanggup memenuhi keinginan dan tujuan.
Rancangan Pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.    Pembelajaran diselenggarakan dengan pengalaman kasatmata dan lingkungan otentik, lantaran hal ini diharapkan untuk memungkinkan seseorang berproses dalam mencar ilmu (belajar untuk memahami, mencar ilmu untuk berkarya, dan melaksanakan kegiatan nyata) secara maksimal.
b.    Isi pembelajaran harus didesain biar relevan dengan karakteristik siswa lantaran pembelajaran difungsikan sebagai prosedur adaptif dalam proses konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan.
c.    Menyediakan media dan sumber mencar ilmu yang dibutuhkan. Ketersediaan media dan sumber mencar ilmu yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman mencar ilmu secara konkrit, luas, dan mendalam, ialah hal yang perlu diupayakan oleh guru yang profesional dan peduli terhadap keberhasilan mencar ilmu siswanya.
d.  Penilaian hasil mencar ilmu terhadap siswa dilakukan secara formatif sebagai diagnosis untuk menyediakan pengalaman mencar ilmu secara berkesinambungan dan dalam bingkai mencar ilmu sepanjang hayat (life long  contiuning education).
Bagaimana pembelajaran yang efektif? Pembelajaran efektif ialah pembelajaran dimana siswa memperoleh keterampilan-keterampilan yang spesifik, pengetahuan dan sikap serta merupakan pembelajaran yang disenangi siswa. Intinya bahwa pembelajaran dikatakan efektif apabila terjadi perubahan-perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor (Reiser Robert, 1996).
a. Ciri-ciri pembelajaran efektif :
o   Aktif bukan pasif
o   Kovert bukan overt
o   Kompleks bukan sederhana
o   Dipengaruhi perbedaan individual siswa
o   Dipengaruhi oleh aneka macam konteks belajar
b. Kriteria :
o   Kecermatan penguasaan
o   Kecepatan unjuk kerja
o   Tingkat alih belajar
o   Tingkat retensi (Reigeluth & Merril, 1989)


B. Lesson Study
Lesson Study ialah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Apabila kita cermati definisi Lesson Study maka kita menemukan 7 kata kunci yaitu pembinaan profesi, pengkajian pembelajaran, kolaboratif, berkelanjutan, kolegalitas, mutual learning, dan komunitas belajar. Lesson Study bertujuan untuk melaksanakan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan biar terjadi peningkatan profesionalitas pendidik terus menerus. Kalau tidak dilakukan pembinaan terus menerus maka profesionalitas sanggup menurun dengan bertambahnya waktu. Bagaimana membinanya, yaitu melalui pengkajian pembelajaran secara terus menerus dan berkolaborasi. Pengkajian pembelajaran harus dilakukan secara berkala, misal seminggu sekali atau dua ahad sekali lantaran membangun komunitas mencar ilmu ialah membangun budaya yang memfasilitasi anggotanya untuk saling belajar, saling koreksi, saling menghargai, saling bantu, saling menahan ego. Membangun budaya tidak sebentar, memerlukan waktu lama. Berapa usang waktu diharapkan untuk membangun budaya komunitas mencar ilmu tidak ada batasan, semakin usang semakin baik. Berkenaan dengan pembelajaran, tidak ada pembelajaran yang sempurna, selalu ada celah untuk memperbaikinya, lantaran itu pembelajaran harus dikaji secara terus menerus biar lebih baik dan lebih baik. Pengkajian pembelajaran dimaksudkan untuk mencari solusi terhadap permasalahan pembelajaran biar terjadi peningkatan mutu pembelajaran terus menerus. Objek kajian pembelajaran sanggup meliputi, antara lain, materi ajar, metode/strategi/pendekatan pembelajaran, Lomba Kompetensi Siswa (Lembar Kerja Siswa), media pembelajaran, seting kelas, dan asesmen. Mengapa pengkajian pembelajaran dilakukan secara berkolaborasi? Karena lebih banyak masukan perbaikan akan meningkatkan mutu pembelajran itu sendiri. Menurut sendiri rasanya persiapan pembelajaran sudah cantik dan ketika mendapat masukan dari orang lain bisa meningkatkan mutu persiapan pembelajaran.
Prinsip kolegalitas dan mutual learning (saling belajar) diterapkan dalam berkolaborasi ketika melaksanakan kegiatan Lesson Study. Dengan kata lain, penerima kegiatan Lesson Study tidak boleh merasa superior (merasa paling pintar) atau imperior (merasa rendah diri) tetapi semua penerima kegiatan Lesson Study harus diniatkan untuk saling belajar. Peserta yang sudah paham atau mempunyai ilmu lebih harus mau membuatkan dengan penerima yang belum paham, sebaliknya penerima yang belum paham harus mau bertanya kepada penerima yang sudah paham. Keberadaan nara sumber dalam lembaga Lesson Study harus bertindak sebagai fasilitator, bukan instruktur. Fasilitator harus sanggup memotivasi penerima mengembangkan potensi yang dimiliki para penerima biar para penerima sanggup maju bersama.
Pengkajian pembelajaran dilaksanakan dalam tiga tahapan, menyerupai diperlihatkan dalam Gambar 1.
Gambar 1. Siklus Pengkajian Pembelajaran dalam Lesson Study

Kalau pembinaan konvensional bersifat top-down, artinya materi pembinaan sudah disiapkan dan diberikan oleh instruktur, sebaliknya pembinaan melalui Lesson Study bersifat bottom-up lantaran materi pembinaan berbasis permasalahan yang dihadapi para guru di sekolah, kemudian dikaji secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu tahapan pertama ialah Plan (merencanakan), tahapan kedua ialah Do (melaksanakan), dan tahapan ketiga ialah See (merefleksi) yang berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement).  Berikut paparan mengenai tahapan-tahapan pelaksanaan Lesson Study.
Secara ringkas, citra umum dan tujuan utama Lesson Study serta hubungannya dengan empat kompetensi guru yang diharapkan UU No 14 Tahun 2005 perihal guru dan dosen, diperlihatkan dalam Gambar 2.

Gambar 2. Gambaran umum dan Tujuan utama lesson study serta hubungannya dengan kompetensi guru
 BAB III METODE PENELITIAN

1.    Lokasi Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan di SMPN 2 Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.

2.    Perencanaan Tindakan
Dalam penelitian tindakan sekolah ini  ini teknik supervisi akademik yang akan dilaksanakan ialah Teknik supervisi individual. Sedangkan teknik supervisi yang akan diteliti atau dilaksanakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini ialah a) teknik kunjungan kelas, b) observasi kelas,  dan c) pertemuan individual.
a) Teknik Kunjungan Kelas
Kunjungan kelas ialah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya ialah untuk menolong guru dalam mengatasi masalah di dalam kelas. 
Cara melaksanakan kunjungan kelas:
a)      dengan  atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu tergantung sifat tujuan dan masalahnya,
b)     atas undangan guru bersangkutan,
c)      sudah mempunyai instrumen atau catatan-catatan, dan
d)     tujuan kunjungan harus jelas. 
Adapun kriteria kunjungan kelas, ialah :
a)      memiliki tujuan-tujuan tertentu; 
b)      mengungkapkan aspek-aspek yang sanggup memperbaiki kemampuan guru; 
c)      menggunakan instrumen observasi untuk mendapat data yang obyektif; 
d)     terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga mengakibatkan sikap saling pengertian; 
e)      pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses pembelajaran; dan
f)       pelaksanaannya diikuti dengan acara tindak lanjut.

b)  Teknik Observasi Kelas
Observasi kelas ialah mengamati proses pembelajaran secara teliti di kelas. Tujuannya ialah untuk memperoleh data obyektif  aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam perjuangan memperbaiki proses pembelajaran. 
Aspek-aspek yang diobservasi adalah: 
a)      usaha-usaha dan acara guru-siswa dalam proses pembelajaran,
b)     cara memakai media pengajaran
c)      variasi metode,
d)     ketepatan penggunaan media dengan materi
e)      ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan
f)      reaksi mental para siswa dalam proses mencar ilmu mengajar. 
Pelaksanaan observasi kelas ini melalui tahap: 
a)      persiapan,  
b)     pelaksanaan, 
c)      penutupan, 
d)     penilaian hasil observasi; dan 
e)      tindak lanjut. Supervisor: 1) sudah siap dengan instrumen observasi, 2) menguasai masalah dan tujuan supervisi, dan 3) observasi tidak mengganggu proses pembelajaran. 

c). Pertemuan Individual
Pertemuan individual ialah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor guru. Tujuannya adalah: 
a.    memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi;
b.    mengembangkan hal mengajar yang lebih baik;
c.    memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan
d.    menghilangkan atau menghindari segala prasangka.
Jenis-jenis pertemuan individual yang akn diterapkan mengacu pada pendapat Swearingen (1961) yang mengklasifikasi empat jenis pertemuan  (percakapan) individual sebagai berikut
a)      classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di  dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).
b)     office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang sanggup digunakan untuk menunjukkan klarifikasi pada guru.
c)      causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru
d)     observational visitation. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan sesudah supervisor melaksanakan kunjungan kelas atau observasi kelas.
Pada pelaksanaan pertemuan individua,l supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, menunjukkan pengarahan, dan melaksanakan kesepakatan terhadap hal-hal yang masih meragukan.


  1. Pelaksanaan Tindakan
a.   Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah:
1).  Membiming guru untuk menciptakan persiapan mengajar   (RPP) yang akan digunakan   
2).  Menyusun lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi mencar ilmu mengajar.
3).  Menyusun daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam diskusi antara kepala sekolah sebagai peneliti dan guru sebagai kawan peneliti..

b.   Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini ialah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan antara peneliti dan kawan peneliti. Kegiatan peneliti (kepala sekolah)  pada siklus I ini ialah mengamati jalannya proses pembelajaran sementara itu kegiatan guru sebagai kawan peneliti ialah melaksanakan tindakan berupa kegiatan pelaksanaan pengajaran sesuai dengan planning yang telah disusun.
c.   Pengamatan.
Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus I ialah sebagai berikut :
1).  Mengobservasi tampilan Guru yaitu  mengamati :
(a). Pengembangan materi pengajaran yang dilakukan guru.
(b). Strategi mencar ilmu mengajar yang dikembangkan guru.
(c). Metoda pembelajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran di kelas.
(d).      Media pengajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran di kelas.
(e). Sumber mencar ilmu yang dipilih dan dipergunakan guru dalam kegiatan pembelajaran.
2).  Mengobservasi acara siswa yaitu mengamati :
(a). Keaktifan dalam menjawab pertanyaan guru.
(b). Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan.
(c). Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
(d).      Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok.
(e). Keaktifan siswa


d.   Refleksi
         Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisa dalam tahap refleksi ini. Disamping data hasil observasi dipergunakan pula jurnal yang dibentuk dikala guru selesai melaksanakan kegiatan pengajaran sebagai teladan bagi guru untuk sanggup mengevaluasi diri. Hasil analisa dipergunakan sebagai teladan untuk merencanakan pada siklus berikutnya.


2.   Proses Penelitian Siklus II
      a.   Perencanaan
            Kegiatan perencanaan yang dilakukan ialah :
1). Mengadakan diskusi dan memberi pendampingan bagi guru untuk menciptakan persiapan mengajar   (RPP) yang akan digunakan   
2).  Mempersiapkan lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi mencar ilmu mengajar.
3).  Mempersiapakan daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam diskusi antara kepala sekolah sebagai peneliti dan guru sebagai kawan peneliti..

b.      Pelaksanaan Tindakan.

Sama menyerupai pada siklus 1, kegiatan pelaksanaan tindakan pada siklus 2 ialah melaksanakan skenario pembalajaran yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya yaitu kegiatan kawan peneliti ialah mengamati jalannya proses pembelajaran, sementara kegiatan peneliti ialah melaksanakan kegiatan pengajaran sesuai dengan planning yang telah disusun sebelumnya dengan diberikan beberapa perbaikan sesuai dengan hasil temuan pada siklus sebelumnya.

c.   Pengamatan

Melakukan pemantauan selama kegiatan proses mencar ilmu mengajar berlangsung dengan lembar observasi yang telah tersedia, dan menyiapkan instrumen tape recorder dan tustel sebagai alat perekam kegiatan ialah sebagai berikut :
1).  Mengobservasi tampilan Guru yaitu  mengamati :
(a). Pengembangan materi pengajaran yang dilakukan guru.
(b). Strategi mencar ilmu mengajar yang dikembangkan guru.
(c). Metode pembelajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran di kelas.
(d).      Media pengajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam pembelajaran di kelas.
(e). Sumber mencar ilmu yang dipilih dan dipergunakan guru dalam kegiatan pembelajaran.

2).  Mengobservasi acara siswa yaitu mengamati :
(a). Keaktifan dalam menjawab pertanyaan guru.
(b).Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan.
(c). Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
(d).      Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok.
(e). Keaktifan siswa dalam mengimplementasikan konsep model pembelajaran Resource-Based Learning. (Pedoman Observasi terlampir).

d.   Refleksi
                        Hasil yang diperoleh dalam siklus II dikumpulkan serta dianalisa dalam tahap ini. Hasil analisa dipergunakan sebagai teladan untuk merencanakan kegiatan pada siklus berikutnya atau mengakhiri kegiatan Penelitian Tindakan Sekolah ini apabila data yang diperoleh sudah cukup memadai..


DAFTAR PUSTAKA

Indonesia (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Lewis, C., Perry, R., and Hurd, J. (2004). A Deeper Look at Lesson Study. Educational Leadership.
Stevenson., H.W., and Stigler, J.W. (1999). The Learning Gap. New York: Touchstone.
Stigler, J.W., and Hiebert, J. (1999). The Teaching Gap: Best Ideas from the World’s Teachers for Improving Education in the Classroom. New York: The Free Press.
Saito, E., Harun, I., Kuboki, I. and Tachibana, H. (2006). Indonesian Lesson Study in Practice: Case Study of Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project.  Journal of In-service Education. 32 (2): 171-184.
Saito, E., Sumar, H., Harun, I., Ibrohim, Kuboki, I., and Tachibana, H. (2006). Development of School-Based In-Service Training Under an Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project.  Improving School. 9 (1): 47-59.
Saito, E., Harun. I., Sumar, H. (2006). Affect of Lower Secondary Students Towards Mathematics and Science Education in Indonesia. Spektra, 6(1): 11-21.
Sumar Hendayana, et.al. (2006). Lesson Study: Pengalaman IMSTEP-JICA. Bandung UPI Press.

Sumar Hendayana, Sukirman, Muchtar A. Karim. (2007). Studi Peran IMSTEP dalam Penguatan Program Pendidikan Guru MIPA di Indonesia. Educationist, 1(1): 27-37.




Contoh Laporan Penelitian Tindakan Kelas: Ppkn / Pkn Smp

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tugas seorang guru dalam memberikan materi pelajaran kepada siswa tidaklah mudah. Guru harus mempunyai kompetensi yang sanggup menunjang tugasnya biar tujuan pendidikan sanggup dicapai. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam meningkatkan pelaksanaan kiprah profesinya ialah kemampuan berbagi model pembelajaran.
<
Dalam berbagi model pembelajaran seorang guru harus sanggup menyesuaikan antara model yang dipilihnya dengan kondisi siswa, materi pelajaran, dan sarana yang ada. Oleh alasannya yaitu itu, guru harus menguasai beberapa jenis model pembelajaran biar proses berguru mengajar berjalan lancar dan tujuan yang ingin dicapai sanggup terwujud.

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, khususnya dalam pembelajaran PKn di daerah-daerah yang sumber daya manusianya masih kurang, guru mengalami kesulitan dalam berbagi model pembelajaran Cooperatif Learning. Ini pun terjadi di SMPN 1 Cadasari pada kelas VIII A dari jumlah siswa 36 orang yang mengikuti post tes pada materi/bahan bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara dengan model pembelajaran Cooperatif Learning, hanya 17 orang yang sanggup dinyatakan lulus (47,22%) dan sisanya sekitar 19 orang dinyatakan belum lulus (52,78%). (Data selangkapnya sanggup dilihat pada tabel di lampiran).

Data tersebut memperlihatkan bahwa hasil berguru PKn pada kelas VIIIA dalam materi Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara sanggup dinyatakan belum tuntas. Ketidaktuntasan tersebut terlihat dari bukti prosentase kelulusan seluruh siswa hanya mencapai 47,22%. Prosentase tersebut jauh dari prosentase ideal antara 80% - 100%. Bahkan prosentase kelulusan tersebut ternyata lebih kecil daripada prosentase ketidaklulusan. Oleh alasannya yaitu itu, untuk kasus tersebut perlu diadakan remedial klasikal. Proses remedial klasikal dalam kasus ini penulis lakukan melalui kegiatan penelitian tindakan kelas.

Dalam rangka meningkatan prosentase kelulusan atau hasil berguru siswa kelas VIIIA tersebut, tentunya guru dituntut merancang model pembelajaran yang lebih sempurna serta penerapan media pembelajaran yang variatif. Berdasarkan kenyataan itulah penulis (guru) mencoba mengadakan PTK melalui penerapan stimulus “membuat karangan” dan “menggambar” serta game berbasis ICT dengan model pembelajaran questioning terhadap peningkatan hasil berguru siswa dalam mata pelajaran PKn khususnya dalam materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara.


============================================




============================================

B. Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas permasalahan yang teridentifikasi dalam penelitian ini adalah:
1. Hasil pembelajaran materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negar dalam mata pelajaran PKn pada Kelas VIII A SMPN 1 Cadasari dengan model pembelajaran Cooperatif Learning masih kurang memuaskan.

2. Terdapat banyak faktor yang menimbulkan hasil berguru kurang optimal. Salah satu penyebabnya yaitu ketidaktepataan penggunaan model Cooperatif Learning dalam pembelajaran materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara pada kelas VIIIA SMPN 1 Cadasari.

3. Perlu adanya model pembelajaran lain yang digunakan untuk peningkatan hasil belajaran PKn dalam materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara di kelas VIII A SMPN 1 Cadasari, yang salah satunya yaitu penerapan stimulus “membuat karangan” dan “menggambar” serta game berbasis ICT dengan model pembelajaran questioning.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, rumusan problem dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
“Bagaimana efektivitas upaya penerapan stimulus ‘membuat karangan’ dan ‘menggambar’ serta game berbasis ICT dengan model pembelajaran questioning terhadap peningkatan hasil berguru siswa dalam mata pelajaran PKn khususnya dalam materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara pada siswa kelas VIII A SMPN 1 Cadasari”

D. Tujuan Penelitian
Tujuan kegiatan penelitian tindakan kelas ini adalah:
(1) untuk mengetahui penerapan stimulus “membuat karangan” dan “menggambar” serta game berbasis ICT dengan model pembelajaran questioning dalam mata pelajaran PKn khususnya dalam materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara; dan
(2) untuk mengetahui efektivitas upaya penerapan stimulus “membuat karangan” dan “menggambar” serta game berbasis ICT dengan model pembelajaran questioning terhadap peningkatan hasil berguru siswa dalam mata pelajaran PKn khususnya dalam materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan penelitian tindakan kelas ini adalah:
(1) Sebagai materi pertimbangan atau masukan bagi penulis dalam penyusunan seni manajemen (penerapan metode, model dan langkah-langkah) pembelajaran PKn selanjutnya;
(2) Diharapkan sanggup dijadikan masukan bagi instansi pemerintah, cq Dinas Pendidikan dan Departemen Pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan; dan
(3) Semoga sanggup memperlihatkan sumbang saran yang positif bagi para guru-guru PKn di lapangan.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, berisi rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.
Bab II Kajian Teori dan Hipotesis Tindakan, berisi ulasan singkat berdasarkan teori yang berkaitan dengan permasalahan penelitian dan pengajuan hipotesis tindakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan penelitian.
Bab III Metode Penelitian, berisi setting penelitian, persiapan penelitian, siklus penelitian,teknik pengumpulan data dan analisis data.
Bab IV Hasil Penelitian, berisi data lapangan dan hasil analisis yang diperoleh pada tiap siklus penelitian
Bab V Simpulan dan Saran.


BAB II LANDASAN TEORITIS

A. Hakekat Pembelajaran
1) Pengertian Pembelajaran
Pembicaraan perihal pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari istilah kurikulum dan pengertiannya. Secara singkat relasi keduanya sanggup dipahami bahwa pembelajaran merupakan wujud pelaksanaan (implementasi) kurikulum. Dengan kata lain pembelajaran merupakan kurikulum dalam kenyataan implementasinya.
Munandir (2000:255) memperlihatkan batasan mengenai pembelajaran sebagai berikut: “Pembelajaran ialah hal membelajarkan, yang artinya mengacu ke segala daya upaya bagaimana menciptakan seseorang belajar, bagaimana menghasilkan insiden berguru di dalam diri orang tersebut”.
Selanjuntnya Gagne dalam Munandir (2000:256) menjelaskan bahwa:
“Pembelajaran tersusun atas seperangkat insiden (event) yang ada di luar diri si belajar, diatur untuk maksud mendukung proses berguru yang terjadi dalam diri si berguru tadi. Peristiwa-peristiwa pembelajaran itu adalah: (1) menarik (membangkitkan) perhatian, (ii) memberitahukan tujuan belajar, (iii) mengingat kembali hasil berguru prasyarat (apa yang dipelajari), (iv) menyajikan stimulus, (v) memperlihatkan bimbingan belajar, (vi) memunculkan perbuatan (kinerja) belajar, (vii) memperlihatkan balikan (feedback), (viii) menilai kinerja belajar, dan meningkatkan retensi dan transfer.”

Berdasarkan hal tersebut, terkandung pengertian bahwa pembelajaran merupakan proses yang direncanakan untuk mendukung proses berguru yang sedang dilakukan oleh seseorang. Kegiatan insan selalu diwarnai proses belajar, biar proses berguru tersebut lebih terarah dan bermakna perlu ada kegiatan pembelajaran. Selanjutnya Depdiknas (2002:9) memperlihatkan definisi pembelajaran sebagai berikut:
“Pembelajaran yaitu suatu sistem atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis biar subyek didik/pembelajar sanggup mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian, kalau pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, seni manajemen dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, penilaian pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya kalau pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka menciptakan siswa belajar.”

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, sanggup disimpulkan bahwa pembelajaran yaitu suatu sistem atau proses yang dilakukan oleh seorang guru dalam rangka menghasilkan terjadinya insiden berguru pada diri siswa untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

2) Perencanaan Pembelajaran
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, langkah awal yang dilakukan guru yaitu menyusun perencanaan pembelajaran secara tertulis yang dituangkan dalam silabus dan planning pelaksanaan pembelajaran. Silabus pada hakekatnya yaitu planning pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran yang merupakan penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam buku Panduan Penyusunan KTSP BNSP (2006:14), sebagai berikut:
Silabus yaitu planning pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang meliputi standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Berdasarkan uraian di atas komponen silabus harus memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.
Dalam menyusun silabus guru harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan silabus. BNSP (2006:10-11) telah memutuskan penyusunan silabus, yakni:
1) Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan sanggup dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2) Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3) Sistematis
Komponen-komponen silabus saling bekerjasama secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4) Konsisten
Adanya relasi yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5) Memadai
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6) Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan insiden yang terjadi.
7) Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus sanggup mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8) Menyeluruh
Komponen silabus meliputi keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

Adapun langkah-langkah pengembangan atau penyusunan silabus, adalah:
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
b. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.
2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a. Potensi peserta didik;
b. Relevansi dengan karakteristik daerah,
c. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
d. Kebermanfaatan bagi peserta didik;
e. Struktur keilmuan;
f. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
h. Alokasi waktu.

3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memperlihatkan pengalaman berguru yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber berguru lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman berguru yang dimaksud sanggup terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman berguru memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam berbagi kegiatan pembelajaran yaitu sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memperlihatkan pinjaman kepada para pendidik, khususnya guru, biar sanggup melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
b Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman berguru siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan sikap yang sanggup diukur yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi kawasan dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau sanggup diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat

5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan memakai tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data perihal proses dan hasil berguru peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian memakai teladan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik sehabis mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk memilih posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan yaitu sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk memilih kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk memilih tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, jadwal remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan jadwal pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus diubahsuaikan dengan pengalaman berguru yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, kalau pembelajaran memakai pendekatan kiprah observasi lapangan maka penilaian harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) contohnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melaksanakan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah ahad efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per ahad dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan asumsi waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber berguru yaitu rujukan, objek dan/atau materi yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber berguru didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Berikut contoh format pengembangan silbaus:

SILABUS

Nama Sekolah :
Mata Pelajaran :
Kelas/semester :
Standar Kompetensi :
Alokasi Waktu :
Kompetensi Dasar
Materi Pokok/ Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar
Bentuk Instrumen


Selain menciptakan silabus guru wajib menciptakan Rencana Pelaksnaan Pembelajaran (RPP). RPP pada hakikatnya yaitu proyeksi perihal apa yang harus dilakukan guru pada waktu melaksanakan kegiatan pembelajaran. Ini berarti RPP merupakan planning perbuatan atau tingkah laris guru pada waktu mengajar. Perbuatan mengajar antara lain meliputi kegiatan guru dalam memakai metode dan model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga sanggup mempengaruhi siswa secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Dengan demikian RPP sesungguhnya merupakan pegangan guru dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Buku Panduan Penyususanan RPP (BNSP,2006), sebagai berikut:

RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh alasannya yaitu itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang pribadi berkait dengan kegiatan pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar.

Menurut Buku Panduan Penyusunan RPP dari BNSP, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk satu Kompetensi Dasar. Artinya, satu kompetensi dasar minimal mempunyai satu RPP. Adapun langkah-langkah dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (BNSP, 2006) yaitu sebagai berikut:

A. Mencantumkan identitas
Pada serpihan ini harus mencantumkan nama sekolah, mata pelajaran, kelas/semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan alokasi waktu

B. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam planning pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran sanggup terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.

C. Mencantumkan Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran yaitu materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

D. Mencantumkan Metode Pembelajaran
Metode sanggup diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi sanggup pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau seni manajemen yang dipilih.

E. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, memakai urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh alasannya yaitu itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan epilog tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

F. Mencantumkan Sumber Belajar
Pemilihan sumber berguru mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber berguru meliputi sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber berguru dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber berguru dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

G. Mencantumkan Penilaian
Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya sanggup ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian memakai teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan kiprah rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.


Di bawah ini diberikan contoh Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebagai berikut

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SMP/MTs. : ...................................
Mata Pelajaran : ...................................
Kelas/Semester : ...................................
Standar Kompetensi: ...................................
Kompetensi Dasar : ...................................
Indikator : ...................................
Alokasi Waktu : ..... x 40 menit (… pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
B. Materi Pembelajaran
C. Metode Pembelajaran
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1
Pertemuan 2
dst
E. Sumber Belajar
F. Penilaian

3) Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran pada umum terbagi atas tiga komponen, yakni kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti atau pokok dan kegiatan final atau penutup. Uraian selengkapnya langkah-langkah dari ketiga komponen tersebut adalah:
1) Kegiatan Awal
Kegiatan yang dilakukan pada awal kegiatan berguru mengajar adalah:
(a) Mengkondisikan berguru siswa; dan
(b) Perkenalan dengan siswa dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada siswa biar dalam pelaksanaan kegiatan berlangsung lebih akrab.
(c) Apersepsi yakni kegiatan penghubung antara materi pembelajaran yang telah disampaikan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan
2) Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti guru akan menerapkan model-model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan pendekatan yang digunakan.
3) Kegiatan Akhir
Kegiatan final merupakan tindak lanjut kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Oleh alasannya yaitu itu, sebagai final pelaksanaan kegiatan berguru pembelajaran yaitu memperlihatkan tindak lanjut berguru kepada siswa.
Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, sanggup disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yaitu pelaksanaan kegiatan membelajarkan siswa biar mereka bisa memahami materi pelajaran, baik yang disampaikan secara pribadi maupun tidak pribadi sehingga tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar sanggup dikuasai oleh siswa.

4) Penilaian Pembelajaran
Penilaian dalam pembelajaran merupakan umpan balik hasil kegiatan pembelajaran dalam rangka perbaikan setiap komponen jadwal pembelajaran. Melalui hasil penilaian, guru sanggup mengukur keberhasilan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan jadwal pembelajaran. Uraian ini diperkuat oleh klarifikasi berikut:
Penilaian dalam proses berguru mengajar berfungsi sebagai alat untuk mengukur tercapaitidaknya tujuan pengajaran. Melalui penilaian sanggup ditetapkan apakah proses tersebut berhasil atau tidak. Kalau berhasil, guru sanggup melanjutkan materi pengajaran pada ahad atau pertemuan berikutnya, tetapi kalau belum berhasil materi yang telah diberikan perlu pengulangan atau pemahaman kembali hingga siswa sanggup menguasainya. (Hidayat, 1995:13)

Selanjutnya, Hidayat (1995:13) juga menjelaskan, bahwa “siswa dikatakan telah berhasil dalam penilaian kalau mencapai taraf penguasaan minimal 75% dari tujuan yang ingin dicapai”. Taraf penguasaan minimal yang dimaksud Hidayat bekerjsama sama dengan ketentuan BNSP perihal perlu adanya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Dalam penilaian yang disajikan pada final kegiatan pembelajaran terdapat dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu mekanisme penilaian dan alat penilaian. “Prosedur penilaian artinya penetapan bagaimana cara penilaian akan dilakukan. Apakah secara lisan, tertulis, atau tindakan. Sedangkan alat penilaian berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada siswa (Sudjana, 1996:65). Selanjutnya, dalam penyusunan pertanyaan dijelaskan sebagai berikut.
a. Isi pertanyaan harus betul-betul mengungkapkan makna yang terdapat dalam rumusan tujuan instruksional khusus.
b. Kata-kata operasional yang digunakan sebagai titik-tolak rumusan pertanyaan.
c. Setiap pertanyaan yang diajukan harus mempunyai tanggapan yang niscaya sehingga dijadikan pegangan dalam memutuskan tercapaitidaknya tujuan instruksional khusus.
d. Banyaknya pertanyaan sekurang-kurangnya sama dengan banyaknya tujuan instruksional khusus.
e. Rumusan pertanyaan harus jelas, tegas, dan dalam bahasa yang gampang dipahami maknanya oleh para siswa sehingga tidak menjadikan penafsiran yang berbeda-beda diantara siswa (Sudjana, 1996:65).

Sejalan dengan uraian di atas, Hidayat (1995:92) menjelaskan, bahwa langkah-langkah dalam menyusun penilaian adalah:
a. Menentukan jenis tes yang sesuai dengan TPK, misalnya:
(a) Tes tertulis;
(b) Tes lisan; dan
(c) Tes perbuatan.
Jenis tes yang dipilih haruslah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Misalnya, tujuan “Siswa sanggup melaksanakan perintah ekspresi dengan tepat” tentu tidak sanggup diukur dengan tes ekspresi atau tertulis tetapi harus dengan tes perbuatan.
b. Menyusun pertanyaan atau item tes sesuai dengan jenis dan bentuk tes yang dipilih.

Berkenaan dengan uraian di atas, sanggup disimpulkan bahwa penilaian pembelajaran yaitu umpan balik hasil kegiatan pembelajaran dalam rangka perbaikan setiap komponen jadwal pembelajaran yang disusun dengan memperhatikan mekanisme dan alat penilaian berdasarkan langkah-langkah penyusun yang telah ditetapkan.

B. Membuat Karangan dan Menggambar dan Games Berbasis ICT sebagai Media Pembelajaran PKN
1) Pengertian Media
Secara bahasa media sanggup diartikan sebagai perantara/pengantar pesan dari pengirim ke peserta pesan. Dalam kaitannya dengan pengajaran-pembelajaran, media diartikan segala sesuatu yang sanggup menyalurkan pesan dari pengirim ke peserta pesan sehingga sanggup merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sehingga terjadi proses belajar. Video, televisi, komputer, diagram, bahan-bahan tercetak, dan hal lain buatan guru sanggup dipandang sebagai media pembelajaran kalau medium itu membawa pesan yang berisi tujuan pengajaran.

Berbagai media yang digunakan untuk pengajaran sanggup diklasifikasikan menyerupai berikut ini:
a) Media visual (media pandang), yang terdiri dari
• Media visual yang tidak diproyeksikan, contohnya foto, diagram, peragaan, dan model.
• Media visual yang diproyeksikan, contohnya slide, filmstrip, overhead transparansi, dan proyeksi komputer.
b) Media audio, contohnya kaset dan compact disk (CD).
c) Media audio-visual, menyerupai video, VCD, DVD.
d) Pengajaran bermedia-komputer, contohnya CAI (Computer Assisted Instruction).
e) Multimedia berbasis komputer.
f) Jaringan komputer, menyerupai internet.
g) Media menyerupai radio dan televisi untuk berguru jarak jauh.

2) Peranan Media
Pada tahun 1964, Edgar Dale berbagi “kerucut pengalaman”. Kerucut pengalaman itu dimulai dari pebelajar sebagai partisipan dalam pengalaman sesungguhnya, menuju pebelajar sebagai pengamat atas suatu insiden tak pribadi (melalui beberapa medium), dan hasilnya pebelajar itu mengamati simbul-simbul yang mewakili insiden itu (Nur, 2000). Dale menyatakan bahwa pebelajar sanggup mengambil manfaat dari kegiatan yang lebih abstrak, asalkan mereka telah membangun sejumlah pengalaman lebih konkrit untuk memaknai penyajian realitas yang lebih ajaib tersebut. Gambar 4-4 memperlihatkan kerucut pengalaman Dale tersebut, disertai rumusan Bruner di sampingnya.

Kerucut pengalaman tersebut memperlihatkan citra bahwa proses pembelajaran dengan cara melaksanakan sendiri dan melihat (fokus pada keterlibatan siswa) lebih besar pengaruhnya dari pada proses mendengarkan. Agar kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada proses keterlibatan siswa maka ketersediaaan media pembelajaran mutlak diperlukan. Berdasarkan kerucut pengalaman tersebut, media pembelajaran mempunyai peranan yang sangat vital bagi keberhasilan proses pembelajaran.

3) Membuat Karangan dan Menggambar dan Games Berbasis ICT sebagai Media Pembelajaran PKN

Adapun yang dimaksud menciptakan karangan dalam penelitian ini yaitu kegiatan siswa menciptakan karangan bebas yang berisi harapan yang ingin dicapai dan upaya untuk mewujudkan harapan tersebut. Kegiatan ini yang divariasikan dengan model pembelajaran questioning dimaksud untuk menanamkan penanaman konsep ideologi negara.
Menggambar di sini dimaksud sebagai kegiatan siswa menciptakan gambar bangunan, rumah dan sejenisnya. Kegiatan ini yang divariasikan dengan model pembelajaran questioning dimaksud untuk menanamkan penanaman konsep dasar negara.
Sedangan game berbasis ICT yaitu permainan kuis melalui media komputer yang berisi pertanyaan-pertanyaan perihal materi pembelajaran PKn. Permainan ini didesain dengan softwear Quizmaker dan Player Macromedia Flash 7.

C. Model Pembelajan Questioning
Model pembelajaran questioning bekerjsama merupakan pengembangan dari metode pembelajaran tanya jawab. Adapun yang dimaskud metode tanya jawab yaitu cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, siswa kepada guru, atau dari siswa kepada siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan bahwa:
“Metode tanya jawab yaitu cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi sanggup pula dari siswa kepada guru.”

Lebih lanjut dijelaskan pula oleh Sudirman (1987:119) bahwa metode tanya jawab ini sanggup dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada banyak sekali sumber berguru menyerupai buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa model questioning yaitu suatu model pembelajaran yang dilakukan dengan mengedepankan pertanyaan-pertanyaan baik yang dibentuk oleh siswa sendiri maupun oleh guru yang bertujuan mengarahkan siswa untuk memahami materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Penggunaan model questioning dengan baik dan tepat, akan sanggup merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan model questioning adalah:
1) Materi menarik dan menantang serta mempunyai nilai aplikasi tinggi.
2) Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban).
3) Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
4) Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik. (Depdikbud, 1996:26).
Adapun manfaat penerapan model questioning dalam sebuah pembelajaran yang produktif berdasarkan buku Panduan CTL Direktorat PLP adalah, untuk
a) menggali informasi, baik manajemen maupun akademis
b) mengecek pemahaman siswa
c) membangkitkan respon kepada siswa
d) mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa
e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siwa
f) menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan;
h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan merupakan tanggapan sementara berupa tindakan (action) atas rumusan permasalahan yang ditetapkan dalam perencanaan penelitian tindakan kelas.
Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu “apabila upaya penerapan stimulus ‘membuat karangan’ dan ‘menggambar’ serta game berbasis ICT dengan penerapan model pembelajaran questioning dalam mata pelajaran PKn khususnya dalam materi bimbing Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara sanggup berjalan efektif, maka hasil berguru siswa akan meningkat”

BAB III METODELOGI PENELITIAN
Membahas atau membicara metode penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berarti membahas setting penelitian, persiapan penelitian, siklus penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analis data yang digunakan dalam penelitian ini.
A. Setting Penelitian
Setting penelitian tindakan kelas ini yaitu sebagai berikut:
1) Lokasi Penelitian : SMPN 1 Cadasari Pandeglang
2) Subyek Penelitian (sampel) : Siswa Kelas VIII A
3) Materi Pelajaran : Pancasila Sebagai Ideologi Negara dan
Sebagai Dasar Negara
4) Media yang digunakan
a) Karangan yang menceritakan harapan seseorang (Penanaman Konsep ideologi)
b) Gambar rumah,bangunan, atau gedung yang kokoh (Penanaman Konsep Dasar Negara
c) Lembaran Kerja
d) Lagu-lagu Nasional
e) Softwear Game Questioning PKn (Game dalam bentuk kuis berbasis ICT sebagai hasil karya pribadi peneliti yang didesain dengan softwear Quizmaker dan Macromedia Flash Player 7)
4) Semester/Tahun Pelajaran : 2007/2008 semester Gasal
5) Lingk. fisik sekolah : pedesaan
6) Latar belakang Sosial Ekonomi
orang renta siswa : menengah ke bawah
7) Kemampuan siswa : sedang
8) Motivasi berguru siswa : rendah
9) Nama Peneliti : Guru Mata Pelajaran PKn
(Aina Mulyana,S.Pd)
10) Mitra Peneliti : Guru PS (Aat Jumiat)
12) Jadwal/waktu kegiatan : Terlampir

B. Persiapan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, oleh karenanya penelitian ini tidak direncanakan semenjak awal, tetapi gres direncanakan sehabis hasil dari proses berguru mengajar dirasakan adanya problem (kurang memuaskan). Langkah-langkah persiapan sehabis dirasakan adanya problem yang perlu dipecahkan melalui PTK ini adalah:
1) Melakukan studi awal dengan melaksanakan refleksi, yakni kegiatan diskusi dengan beberapa orang guru terkait (terutama kawan peneliti) dengan permasalahan yang ditemukan
2) Membuat planning tindakan, meliputi kegiatan menciptakan planning pembelajaran, dan menciptakan kesepakatan dengan kawan peneliti

C. Siklus Penelitian
Jumlah siklus dalam PTK ini tidak ditentukan semenjak awal, tetapi sangat dipengaruhi oleh data yang diperoleh dan hasil analisisnya. Apabila data yang diperoleh sudah memuaskan untuk menjawab permasalahan penelitian, maka siklus penelitian dianggap selesai

D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui obeservasi dan catatan data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil refleksi/diskusi yang dilakukan oleh peneliti dan kawan peneliti. Penentuan teknik tersebut didasarkan ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang dimiliki peneliti dan kawan peneliti.
Uraian lebih lanjut mengenai teknik-teknik pengumpulan data tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Observasi dan catatan data lapangan
Observasi dalam kegiatan PTK merupakan kegiatan pengamatan terhadap kegiatan yang dilakukan guru (peneliti) selama melaksanakan kegiatan berguru mengajar di kelas. Kegiatan ini dilakukan oleh pengamat yang dalam hal ini yaitu kawan peneliti (Aat Jumiat, S.Ag).
Bentuk kegiatan observasi yang dilakukan dalam PTK ini memakai model observasi terbuka. Adapaun yang dimaksud observasi terbuka yaitu apabila pengamat atau observer melaksanakan pengamatannya dengan mencatatkan segala sesuatu yang terjadi di kelas.
Hasil pengamatan dari kawan peneliti selanjutnya dijadikan catatan data lapangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Prof Dr. Rochiati Wiriaatmaja (2005:125) yang menyatakan: “Sumber informasi yang sangat penting dalam penelitian ini (PTK) yaitu catatan lapangan (field notes) yang dibentuk oleh peneliti/mitra peneliti yang melaksanakan pengamatan atau observasi”.

b) Wawancara
Wawancara berdasarkan Denzin dalam Rochiati Wiriaatmaja (2005:117) yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap sanggup memperlihatkan informasi atau klarifikasi hal-hal yang dipandang perlu.
Dalam PTK ini kegiatan wawancara dilakukan oleh peneliti dan dibantu kawan peneliti kepada beberapa orang siswa (sebagai sampel) yang terlibat dalam kegiatan PTK ini.
c) Hasil tes
Hasil tes yang dimaksud yaitu hasil berupa nilai yang diperoleh melalui ujian post tes. Hasil ini sanggup dijadikan materi perbandingan antara hasil post tes terdahulu dengan hasil post tes sebelumnya.
d) Catatan hasil refleksi
Adapaun yang dimaksud catatan hasil refleksi yaitu catatan yang yang diperoleh dari hasil refleksi yang dilakukan dengan melalui kegiatan diskusi antara peneliti dan kawan peneliti. Hasil refleksi ini selain dijadikan materi dalam penyusunan planning tindakan selanjutnuya juga sanggup digunakan sebagai sarana untuk mengetahui telah tercapai tidaknya tujuan kegiatan penelitian ini.

E. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam PTK ini dilakukan semenjak awal, artinya analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi siklus. Hal ini sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati Wiriaatmaja (2005:139) bahwa “…. the ideal model for data collection and analysis is one that interweaves them form the beginning”. Ini berarti model ideal dari pengumpulan data dan analisis yaitu yang secara bergantian berlangsung semenjak awal.
Kegiatan analisis data akan dilakukan mengacu pada pendapat Rochiati Wiriaatmaja, (2005:135-151) dengan melaksanakan catatan refleksi, yakni pemikiran yang timbul pada ketika mengamati dan merupakan hasil proses membandingkan, mengaitkan atau menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya. Gambaran hasil pelaksanaan refleksi tersebut dibentuk dalam bentuk matrik biar terlihat lebih terang dan gampang dipahami secara substansif.
Berikut contoh matriks yang akan digunakan:


Tabel
CONTOH MATRIK ANALISIS DATA
Siklus Ke …….
Teknik Pengumpulan Data Deskripsi pelaksanaan
dan hasil yang diperoleh Analisis – Refleksi
Observasi
Wawancara
Hasil Tes
Kolom deskrispi pelaksanaan dan hasil yang diperoleh akan diisi data berupa desksripsi pelaksanaan kegiatan observasi itu sendiri (terutama hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya) dan berupa data hasil dari pelaksanaan kegiatan pengumpulan data dengan teknik tersebut. Sedangkan kolom analisis dan refleksi diisi dengan data hasil refleksi dan analisis yang dilakukan melalui kegiatan diskusi antara peneliti dan kawan peneliti.

F. Teknik Uji Validitas

Sebagaimana penelitian tindakan, uji validitas dalam PTK ini condong ke makna dasar validitas dalam penelitian kualitatif, yaitu makna pribadi dan lokal dari tindakan sebatas sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, dalam Suwarsih Madya, 2007)
Kriteria yang digunakan untuk mengukur validasi PTK ini didasarkan pendapat Suwarsih Madya (2007) yakni validitas demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan validitas dialogis.
a) Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan banyak sekali suara/pendapat. Dalam PTK ini, peneliti mencoba berkolaborasi dengan kawan peneliti dan siswa yang masing-masing diberi kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya selama penelitian berlangsung.
b) Validitas Hasil mengandung makna bahwa PTK ini sanggup membawa hasil yang bermanfaat, yakni bisa memecahkan permasalahan yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan berguru mengajar.
c) Validitas Proses mengandung makna bahwa selama berlangsungnya PTK peneliti dan kawan peneliti berusaha terus berguru dari proses tindakan, mencoba mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga sanggup melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya.
d) Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang dicapai selama melaksanakan kegiatan PTK dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman peneliti dan murid-murid terhadap kiprah masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akhir dari perubahan ini.
e) Validitas Dialogik mengandung makna bahwa selama berlangsungnya PTK, proses dan hasil yang diperoleh didiskusikan dengan kawan peneliti, guru lain, lembaga MGMP dan bahkan direncanakan untuk dipublikasikan di media masa.
Teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan validitas PTK ini yaitu dengan memakai teknik trianggulasi, yakni penggunaan metode ganda dan perspektif kawan peneliti untuk memperoleh citra kaya yang lebih objektif. Sesuai dengan pendapat Burns (Suwarsih Madya, 2007) ada 4 jenis trianggulasi yang coba diterapka dalam PTK ini, yakni trianggulasi waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teoretis.
a) Trianggulasi waktu sanggup dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang berbeda, sedapat mungkin meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin bahwa imbas sikap tertentu bukan hanya suatu kebetulan.
b) Trianggulasi ruang sanggup dilakukan dengan mengumpulkan data yang sama di tempat yang berbeda.
c) Trianggulasi peneliti sanggup dilakukan dengan pengumpulan data yang sama oleh beberapa peneliti hingga diperoleh data yang relatif konstan.
d) Trianggulasi teoretis sanggup dilakukan dengan memaknai tanda-tanda sikap tertentu dengan dituntun oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait.

Selengkapnya sanggup anda download pada PTK Kelas VIII





= Baca Juga =